Sholat Jumat Berjamaah di Lapas Ampana (Dok: Humas)TOUNA – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Ampana, Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Sulawesi Tengah, terus berkomitmen memperkuat pembinaan kepribadian warga binaan melalui jalur keagamaan.
Salah satu bentuk nyata adalah pelaksanaan ibadah Sholat Jumat berjamaah di Masjid Ulil Amri, yang rutin dilaksanakan setiap pekan dan menjadi kewajiban bagi seluruh Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) yang beragama Islam, Jumat (3/10/2025).
Sholat Jumat berjamaah bukan hanya sekedar memenuhi kewajiban agama, tetapi juga menjadi sarana pembinaan mental, akhlak, dan kesadaran hukum bagi para warga binaan.
Melalui kegiatan ini, mereka diajak untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT, menumbuhkan rasa taat beribadah, serta belajar mengendalikan diri dari perbuatan yang dilarang agama maupun hukum. Diharapkan, setelah bebas nanti, mereka dapat kembali ke masyarakat sebagai pribadi yang beriman, bertakwa, dan bermanfaat bagi lingkungannya.
Sebelum pelaksanaan Sholat Jumat, para warga binaan terlebih dahulu mendengarkan khotbah yang disampaikan secara khidmat. Menariknya, khotbah tersebut juga diisi oleh salah satu warga binaan yang telah mendapatkan pembinaan kerohanian.
Hal ini menjadi bukti nyata bahwa Lapas Ampana tidak hanya menjalankan fungsi penegakan hukum, tetapi juga berperan aktif sebagai tempat pembinaan moral dan spiritual. Dengan kesempatan ini, WBP dilatih untuk berani berbicara, menyampaikan pesan kebaikan, sekaligus meningkatkan rasa percaya diri.
Setelah khotbah selesai, seluruh warga binaan bersama jajaran pegawai Lapas Ampana melaksanakan Sholat Jumat berjamaah dengan penuh kekhusyukan. Kebersamaan ini mencerminkan nilai solidaritas, persaudaraan, serta suasana religius yang terus dibangun di lingkungan Lapas.
Kepala Lapas Ampana, Luther Toding Patandung menegaskan pentingnya pembinaan kerohanian sebagai salah satu pilar utama dalam sistem pemasyarakatan.
“Sholat Jumat berjamaah bukan hanya ibadah wajib, tetapi juga momentum untuk membangun kesadaran, kedisiplinan, serta membentuk akhlak mulia,” ujar Kalapas Luther.
“Melalui kegiatan rutin ini, kami berharap warga binaan dapat menjalani masa pidana dengan introspeksi diri dan perubahan sikap yang lebih baik, sehingga ketika bebas nanti mereka siap kembali ke masyarakat sebagai pribadi yang taat beragama dan patuh pada hukum,” ungkapnya.
Luther menambahkan bahwa pembinaan spiritual akan terus digalakkan di Lapas Ampana sebagai upaya menciptakan suasana hunian yang religius, damai, dan harmonis.
“Kegiatan ini sejalan dengan tujuan pemasyarakatan, yaitu membentuk manusia seutuhnya yang menyadari kesalahannya, memperbaiki diri, dan siap berkontribusi positif setelah kembali ke tengah masyarakat,” pungkasnya.
Dengan adanya pelaksanaan Sholat Jumat berjamaah secara konsisten, Lapas Ampana membuktikan bahwa pemasyarakatan bukan sekadar menjalani hukuman, melainkan juga tempat pembinaan yang mampu mengubah cara berpikir, sikap, dan perilaku warga binaan ke arah yang lebih baik. ***
Tidak ada komentar